“Makna di balik Idul Fitri”
September 26, 2008
Idul Fitri adalah hari kemenangan. Orang-orang beriman yang berhasil melewati Ramadhan dengan baik seperti dilahirkan kembali, layaknya bayi suci yang belum ternoda. Sayangnya, banyak orang islam masih menganggap Idul Fitri merupakan hari kebebasan.Bebas dari lapar dan haus, bebas dari menahan nafsu, bebas tarawih, bebas merdeka dari segala kewajiban Ramadhan.
Ironisnya, di tengah situasi yang kian tidak menentu, terutama di belahan lain Indonesia, banyak pihak yang masih merasa ‘wajib’ berbaju baru, memberi salam tempel, ataupun menyediakan hidangan wah yang terkadang nyaris dipaksakan keberadaannya. Seharusnya mereka malu, karena banyak saudara-saudara kita yang justru tidak tahu apakah Idul Fitri kali ini akan mereka lalui dengan takbir, tahmid, atau justru berhadapan dengan moncong senjata, bom, dan kematian. Pernahkah hal itu terlintas di benak kita-kita yang selama ini mengaku saudara?

Idul Fitri berasal dari kata Ied’kembali’ dan Fitri ‘kesucian’, yang artinya kembali pada sesucian. Pada hari itu Allah menghapuskan segala dosa hamba-hamba-Nya yang telah ikhlas melaksanakan ibadah Ramadhan. Dosa yang langsung diampuni adalah dosa yang dilakukan kepada Allah. Sedangkan dosa seorang manusia terhadap manusia lain, akan diampuni ketika orang yang dizalimi telah memaafkan. Dan momen terbaik untuk saling memaafkan ialah Idul Fitri. Itulah hikmah penting dari hari Fitri tersebut. Jadi, jangan malu dan ragu buat minta maaf!!Sayangnya, ada hal penting yang sering dilupakan oleh sebagian kita. Banyak perilaku Ramadhan yang justru ditinggalkan begitu saja selepas bulan suci tersebut. Sangat baik jika kita berusaha agar nilai-nilai dan kebiasaan Ramadhan terus ditanamkan dalam hari-hari selanjutnya, sehingga kehidupan ini akan lebih bermakna dan perilaku kita akan terbina dengan baik. Sangatlah indah jika kita terus berikhtiar untuk menjadi insan yang berhati dan berperilaku Ramadhan setiap harinya.
Hendaklah kita mengingat bahwa kembali kepada fitrah bukan berarti tidak melakukan kesalahan lagi, tapi bagaimana upaya kita memperkecil kesalahan tersebut.
Entry Filed under: Religi. Tag: lomba web log, seamolec.
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed









1.
Chicha | September 29, 2008 at 3:19 am
Selamat Hari raya Idul Fitri 1429 H, Minal Aidzin WalFaizin mohon maaf lahir dan batin.
Semoga dihari yang fitri ini segala dosa kita diampuni Allah SWT, dan amal ibadah kita semakin meningkat setelah digembleng di bulan Ramadhan.
2.
Pak Irul | September 29, 2008 at 3:27 am
” Laisal Ied liman labisal jadid, walakinnal ied liman ‘thoatuhu tazied” (Orang yang berhari raya bukanlah yang baru bajunya, tetapi yang berhariraya adalah yang tambah taatnya kepada Allah).
Makanya idul fitri nggak semuanya harus baru, yang penting harus ada perbuahan antara sebelum melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan dan sebelum melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan.
Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H
Minal Aizin Wal Faizin
Mohon Maafa lahir dan batin
Taqabbalallahu minna waminkum
3.
muhamad abduh | Mei 24, 2009 at 5:15 pm
selamat idul fitri aja ya …